Allah memberikan peringatan dan zaman sabagai wasilahnya. Bahwa manusia sebenarnya sangat merugi karena tidak mampu memanfaatkan waktu yang telah diberikan untuk digunakan dengan efisien. Namun Allah juga memberikan dispensansi untuk beberapa golongan, golongan pertama yang akan selamat dari ancaman diatas adalah meraka yang beriman. Sebuah hadis mensitir pertanyaan malaikat kepada nabi Muhammad, apa itu iman?iman adalah mengkui eksistensi Allah, malaikatnya, kitab-kitabnya, rosul-rosulnya, adanya hari pembalasan, serta mengimani baik buruknya qodo dan qodarnya. Dengan demikian iman merupakan pokok dari seluruh peran dan funsi manusia sebagai kholifah dibumi. Karena hanya dengan imanlah manusia dapat mencapai ketenangan. Serta selalu mengasahnya dengan zikir “ala bizikrillahi tatmainnul qulub”.
Setelah iman tertanam kuat dalam hati, barulah setelah itu nabi diberikan pertanyaan tentang apa itu islam. Islam adalah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rosul-Nya, mendirikan solat, berpuasa pada bulan romadhon, menunaikan zakat, serta menunaikan ibadah haji. Semua perintah dalam rukun islam tersebut merupakan perintah umum yang semua manusia dapat melaksanakannya keciali bagi yang mendapat halangan syar’i. adapun haji adalah perintah yang khitobnya juga sama, akan tetapi dikhususkan bagi mereka yang ‘mampu’. Karena itulah mengapa –diindonesia- orang yang telah pulang dari haji disebut dengan ‘pak haji’. Karena tanggungjawab moral, spiritual dan social yang dibawa memang sangat berat. Karena definisi ‘mampu’ diatas tidak hanya meliputi kemampuan dalam financial akan tetapi juga mental kemudian setelah itu mampu merubah habit yang melekat pada kepribadiannya sebelum menunaikan ibadah haji. Sehingga dengan demikian diharapkan dapat menjadi uswatun hasanah bagi masyarakatnya.
Dimasa sekarang ini tidak sulit untuk menemukan ‘pak haji’ yang masih belum bisa menyandang gelar yang disematkan oleh masyarakat, dengan kata lain dia tidak mempu mengecawantahkan perannya sebagai haji yang mambrur. Keadaan ini diperparah lagi dengan oknum yang memberika sahadah (ijasah) haji, wajar saja jika ijasah itu laku keras bak kacang goreng terurama bagi jemaah haji yang berasal dari Indonesia. Kerana diantara juataan jemaah haji tersebut masih banyak yang tidak mengerti hakekat ibadah haji. Asal punya uang, syarat sudah terpnuhi lansung berangkat.
Namun demikian kita menghargai usaha mereka untuk menunaikan ibadah haji, tapi mbok ya jangan ibadah haji itu dijadikan untuk mencari label saja. Namun disana ada usaha untuk membekali diri dengan berbagai ilmu agama sehingga haji yang dapet stampel mambrur itu bener-bener ‘mabrur’. Adian husaini dalam beberapa kesempatan mengatakan “ko bisa orang yang umurnya sekian tahun mengatakan, saya kan orang awam, lha terus selama ini ngapain aja?” karena bagaimanapun kata awam tidak lantas dapat menjadi legitimasi untuk kita lepas dari tanggung jawab sebagai kholifah fil ardl yang diamanati dunia dan segala isinya. Karena kata ‘awam’ hanyalah bagi mereka yang tidak mau berusaha untuk tidak menjadi awam. Wallahu a’lam.